Oleh Ag. Wahyu
Akhirnya, kita sampai pada simpang empat sejarah.
waktu telah terkulum. dan patah-patah. ruang mengerjap sepanjang tarikan nafas. kamu belum bosan menciumi plakat-plakat pendakian. tanda mudamu yang perkasa. dan foto-foto penuh coretan yang mengejek.
Di sini keramaian penuh. kita berdiri tanpa bergandengan.
tanpa tatapan. tak ada yang lebih mencekam daripada sunyi seorang diri. dan ingatan adalah teman karib yang mencongkel mataku dari dalam.
Engkau berjalan lurus. tak menoleh!
aku tak hendak ikut. aku mau pulang. simpang
ini hanya berputar. selalu.
Darimu aku mengandung nasib yang tak pernah berisyarat. ia
sepucat wajahmu di dalam kaca. sementara pongah kerak-kerak nafasmu belum juga berujung. kabur selalu kabur pada buncah musim. nasib itu.
Jejak langkah memang isyarat. tapi angin padang pasir juga isyarat. yang menghapus tapak-tapak kakimu. apakah kita sama-sama mencari?
dalam sudut-sudut bisu.
Hujan purna. siapa hendak menarik waktu ke pusaran? ada di sana menunggumu. rembulan biru atau matahari ungu sama saja. memutar-mutar keseharian dan bising.
Hujan purna. lusanya lusa akan kukirim engkau setangkai daun. pasanglah
di ketiak telinga sebelum terang membujurkan birahimu.
Tampilkan postingan dengan label D Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label D Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Oktober 2007
3 Obrolan Pagi
Obrolan pagi ini 1
semula kita percakapkan si a yang bekerja
semalaman. mengukir batuk bercak beriak. dan si B
berselingkuh di selang subuh. lalu di seberang sungai yang sayup-
sayup,
kokok ketiga lirih mengaduh.
“Jesus....”keluhku.
Oleh Ag Wahyu
Obrolan pagi ini 2
meneguk kopi pagi. Kita percakapkan si Budi yang juara lagi. mas
Pram masuk
bui. whisky harganya meninggi. pak m kumat lagi. si z kecanduan
narkotika. dan
kakakmu yang baru pulang dari Malaysia.
Obrolan pagi 3 --habis--
teman kita datang. tak pernah suka kopi. ia hanya
mencintai pagi dan percakapan. terlanjur.
beritanya: burung-burung nazar tergesa-gesa ke surga. bangkai
termahal
menggeletak di sana. padahal baru kemarin anaknya
disalib
semula kita percakapkan si a yang bekerja
semalaman. mengukir batuk bercak beriak. dan si B
berselingkuh di selang subuh. lalu di seberang sungai yang sayup-
sayup,
kokok ketiga lirih mengaduh.
“Jesus....”keluhku.
Oleh Ag Wahyu
Obrolan pagi ini 2
meneguk kopi pagi. Kita percakapkan si Budi yang juara lagi. mas
Pram masuk
bui. whisky harganya meninggi. pak m kumat lagi. si z kecanduan
narkotika. dan
kakakmu yang baru pulang dari Malaysia.
Obrolan pagi 3 --habis--
teman kita datang. tak pernah suka kopi. ia hanya
mencintai pagi dan percakapan. terlanjur.
beritanya: burung-burung nazar tergesa-gesa ke surga. bangkai
termahal
menggeletak di sana. padahal baru kemarin anaknya
disalib
pertemuan pada
Oleh Agus Malma Subhan
senyum turun. gerimis pada tanah. bukan. bukan dari langit.
suatu bunga memetik diri sendiri di batas awan. aku doa. pada amen.
sari. adakah wangi di hidungmu masih bicara dengan angin? pada hawa di aku punya doa --yang merah dan bara? yang putih dan badai?
sungguh. aku hanyalah luruh. pernah redam. dalam. terkubur nisan-nisan. terkafan debuan rukun kepingan igau. lalu semi bernama harap. keterangan bernama mimpi. kerja keras bernama cita-cita. bersama. memberi nama. diberi nama. ini jatuh. sayang. ini jerembab nan memeluk. kasih. barangkali. hidup airmata.
20 mei 2004
senyum turun. gerimis pada tanah. bukan. bukan dari langit.
suatu bunga memetik diri sendiri di batas awan. aku doa. pada amen.
sari. adakah wangi di hidungmu masih bicara dengan angin? pada hawa di aku punya doa --yang merah dan bara? yang putih dan badai?
sungguh. aku hanyalah luruh. pernah redam. dalam. terkubur nisan-nisan. terkafan debuan rukun kepingan igau. lalu semi bernama harap. keterangan bernama mimpi. kerja keras bernama cita-cita. bersama. memberi nama. diberi nama. ini jatuh. sayang. ini jerembab nan memeluk. kasih. barangkali. hidup airmata.
20 mei 2004
Pameran buku Jules Verne Di Toko Buku Monte Cristo
Oleh Agus Sarjono
Pada suatu hari tersebutlah kisah
seorang raja yang gundah di samping selingkuh istri
dan para panglima. Maka keluarlah perintah
untuk mengasah senjata, menyiapkan tentara
dan mengatur barisan panah. Sebuah tour kekuasaan
tengah disiapkan, ucap Dumas sambil menghirup pipanya
dengan nyaman dekat perapian yang menyala.
Ketika barisan tentara bergerak
dan pedang berkilau-kilau di bawah surya,
ada yang mengendap-endap
ke peraduan sang permaisuri jelita, seperti....
Cerita yang lapuk dan kurang inspirasi: cerewet
dan tanpa teknologi, potong Jules Verne.
Mari kukisahkan perjalanan menyelam
puluhan ribu mil di bawah laut, berkelana
ke pusat bumi atau mengelilingi dunia dalam 80 hari,
bayangkan: Dunia! bukan cinta dan kesumat
yang serba berlarat-larat
di ranjang kekuasaan. Kisah-kisah cemar
dan menjemukan.
Tapi anak muda, apa yang kau tahu soal dunia?
Gumam Dumas, menahan sabar. Sttt. Kemarilah
akan kukisahkan cerita-cerita simpanan
kepahlawanan dan skandal
di lorong-lorong istana. Tahukah engkau
jenderal perkasa itu sebenarnya.... Sudahlah Pak Tua
Mari kuberi tahu Anda perkara menghitung ketepatan hari
dan mengurus ditel rencana. Mana mungkin dada montok
dan liur jendral atau bangsawan bisa membawa kita ...
Anak muda! Peduli setan dengan perjalanan
ke bawah lautmu. Jika pedang para Jenderal sudah dihunus,
apakah kau pikir para tokohmu masih berani
muncul kembali ke permukaan laut.
Tapi Pak tua, dengan sedikit ilmu hitung, seribu pedang
dan orang pandir bisa berbaris di belakangmu.
Secara teknologis, persoalan politik adalah…
Belum selesai Jules Verne menjelaskan perkara
pipa Dumas sudah melayang ke jidatnya.
Jules Verne menjambret tatakan lilin
dan melemparkannya ke hidung Dumas.
Perkelahian tak terhindarkan. Di luar gerimis
Dan suhu membeku. Bagaimana
jika kubacakan sajak-sajakku, nyanyian negeri tropis
semacam selingan bagi Paris?
Serentak keduanya menoleh padaku. Hei Pendatang baru!
Cukuplah kepala Si cantik Antoinette yang menggelinding
Kian-kemari di hati kami. Abad-abad lewat tapi masih kautuliskan juga
kisah-kisah terbelakang, cerita-cerita semacam bangsa
yang repot belajar jadi manusia. Aku yakin
Si Pandir Jules Verne ini tak bakal berani berkeliling di sana
Berapa hari pun waktunya. Dan ha ha ha
mana dia punya nyali menyelam tiga depa saja
di kedalaman airmata berbau amis lautmu sana.
Tapi Pak Tua, hardik Jules Verne, aku yakin Si Monte-Cristo
juga tiga Musketeermu tak bakal berani jadi ksatria
dan bangsawan di sana. Bayangkan!
bahkan Si Ageng Mangir sudah menjadi mantu raja
dan takluk pula, toh kepalanya pecah berhamburan
di bawah kaki sang mertua.
Saudara-saudara, beri aku kesempatan bicara
sebentar saja. Aku memang dari dunia ketiga
tapi sebenarnya ada banyak harapan
hatibaik dan masa depan, tunggu lah sejenak lagi
kemiskinan dan kekerasan akan tinggal berdebu
di ruang museum dan kitab lama, akan kami bangunkan
negeri kami sebuah masa depan yang ….
Aku termangu. Tak ada lagi Dumas dan Verne.
Toko buku Monte Cristo telah jauh di belakangku.
Di depanku lengang. Kesiur angin dan dingin menjulang
Seperti kubah Sacre Ceur. Kulekapkan mantelku
sambil tertatih mencari jalan pulang.
1999
Pada suatu hari tersebutlah kisah
seorang raja yang gundah di samping selingkuh istri
dan para panglima. Maka keluarlah perintah
untuk mengasah senjata, menyiapkan tentara
dan mengatur barisan panah. Sebuah tour kekuasaan
tengah disiapkan, ucap Dumas sambil menghirup pipanya
dengan nyaman dekat perapian yang menyala.
Ketika barisan tentara bergerak
dan pedang berkilau-kilau di bawah surya,
ada yang mengendap-endap
ke peraduan sang permaisuri jelita, seperti....
Cerita yang lapuk dan kurang inspirasi: cerewet
dan tanpa teknologi, potong Jules Verne.
Mari kukisahkan perjalanan menyelam
puluhan ribu mil di bawah laut, berkelana
ke pusat bumi atau mengelilingi dunia dalam 80 hari,
bayangkan: Dunia! bukan cinta dan kesumat
yang serba berlarat-larat
di ranjang kekuasaan. Kisah-kisah cemar
dan menjemukan.
Tapi anak muda, apa yang kau tahu soal dunia?
Gumam Dumas, menahan sabar. Sttt. Kemarilah
akan kukisahkan cerita-cerita simpanan
kepahlawanan dan skandal
di lorong-lorong istana. Tahukah engkau
jenderal perkasa itu sebenarnya.... Sudahlah Pak Tua
Mari kuberi tahu Anda perkara menghitung ketepatan hari
dan mengurus ditel rencana. Mana mungkin dada montok
dan liur jendral atau bangsawan bisa membawa kita ...
Anak muda! Peduli setan dengan perjalanan
ke bawah lautmu. Jika pedang para Jenderal sudah dihunus,
apakah kau pikir para tokohmu masih berani
muncul kembali ke permukaan laut.
Tapi Pak tua, dengan sedikit ilmu hitung, seribu pedang
dan orang pandir bisa berbaris di belakangmu.
Secara teknologis, persoalan politik adalah…
Belum selesai Jules Verne menjelaskan perkara
pipa Dumas sudah melayang ke jidatnya.
Jules Verne menjambret tatakan lilin
dan melemparkannya ke hidung Dumas.
Perkelahian tak terhindarkan. Di luar gerimis
Dan suhu membeku. Bagaimana
jika kubacakan sajak-sajakku, nyanyian negeri tropis
semacam selingan bagi Paris?
Serentak keduanya menoleh padaku. Hei Pendatang baru!
Cukuplah kepala Si cantik Antoinette yang menggelinding
Kian-kemari di hati kami. Abad-abad lewat tapi masih kautuliskan juga
kisah-kisah terbelakang, cerita-cerita semacam bangsa
yang repot belajar jadi manusia. Aku yakin
Si Pandir Jules Verne ini tak bakal berani berkeliling di sana
Berapa hari pun waktunya. Dan ha ha ha
mana dia punya nyali menyelam tiga depa saja
di kedalaman airmata berbau amis lautmu sana.
Tapi Pak Tua, hardik Jules Verne, aku yakin Si Monte-Cristo
juga tiga Musketeermu tak bakal berani jadi ksatria
dan bangsawan di sana. Bayangkan!
bahkan Si Ageng Mangir sudah menjadi mantu raja
dan takluk pula, toh kepalanya pecah berhamburan
di bawah kaki sang mertua.
Saudara-saudara, beri aku kesempatan bicara
sebentar saja. Aku memang dari dunia ketiga
tapi sebenarnya ada banyak harapan
hatibaik dan masa depan, tunggu lah sejenak lagi
kemiskinan dan kekerasan akan tinggal berdebu
di ruang museum dan kitab lama, akan kami bangunkan
negeri kami sebuah masa depan yang ….
Aku termangu. Tak ada lagi Dumas dan Verne.
Toko buku Monte Cristo telah jauh di belakangku.
Di depanku lengang. Kesiur angin dan dingin menjulang
Seperti kubah Sacre Ceur. Kulekapkan mantelku
sambil tertatih mencari jalan pulang.
1999
Di Apartemen Erick
Oleh Agus Sarjono
Di apartemen tingkat sepuluh, di pinggiran Utrecht
bintang-bintang tak kelihatan. Tapi lampu-lampu kota
berkedipan bagai kunang di jauhan. Di luar badai salju
dan angin kencang. Kami lepas mantel
dan hati yang tegang. Erick, Inggrid, Nenden, Karen
dan Medelin saling berpandangan, menghirup teh panas
membuka buku puisi dan memetik gitar.
Kami nyanyikan lagu-lagu lama. Nyiur hijau
di tepian pantai yang jauh, memanggili desa
yang tercinta tanah air beta. Sambil mengusap airmata
seperti mengusap luka dan sakit yang purba
Medelin melenguh diam-diam. Sudah berlayar
jauh kemari ooh jauh kemari, tanah Ambon
wahai tanah Ambon selalu saja berdebur
dalam ingatan. Tapi malam telah kelewat dalam.
Di bawah badai salju kami berarak
menuju halte sambil berseru Que sera-sera
apa yang bakal terjadi biar terjadi
Kamipun faham akhirnya. Tanah air abadi
selalu serupa mimpi. Negeri-negeri
yang dicintai, kenangan-kenangan lama
yang enggan mati. Di dalam kereta
kami biasakan diri kami
menjalani patah hati ini.
1999
Di apartemen tingkat sepuluh, di pinggiran Utrecht
bintang-bintang tak kelihatan. Tapi lampu-lampu kota
berkedipan bagai kunang di jauhan. Di luar badai salju
dan angin kencang. Kami lepas mantel
dan hati yang tegang. Erick, Inggrid, Nenden, Karen
dan Medelin saling berpandangan, menghirup teh panas
membuka buku puisi dan memetik gitar.
Kami nyanyikan lagu-lagu lama. Nyiur hijau
di tepian pantai yang jauh, memanggili desa
yang tercinta tanah air beta. Sambil mengusap airmata
seperti mengusap luka dan sakit yang purba
Medelin melenguh diam-diam. Sudah berlayar
jauh kemari ooh jauh kemari, tanah Ambon
wahai tanah Ambon selalu saja berdebur
dalam ingatan. Tapi malam telah kelewat dalam.
Di bawah badai salju kami berarak
menuju halte sambil berseru Que sera-sera
apa yang bakal terjadi biar terjadi
Kamipun faham akhirnya. Tanah air abadi
selalu serupa mimpi. Negeri-negeri
yang dicintai, kenangan-kenangan lama
yang enggan mati. Di dalam kereta
kami biasakan diri kami
menjalani patah hati ini.
1999
sekayuh nafas di ujung habis
Oleh Agus Sulistyo
akhirnya, kamu datang dengan sepasang sepatu berhak tinggi
megah menjulang mendaki ujung celana bertabur warna-warni bintang
dan senyum seciap merah anggur
“malam ini, tentu masih ada secawan anggur, lelehan atau harum uapnya sekalipun, juga remah roti di pinggan atau tercecer di meja perjamuan”
dan, sepotong blouse merajuk manja
mengurai warna-warni perca,
”ah, kamu masih saja bertelanjang dada”
maka, kepadamu kutanyakan:”adakah roti barang secuil atau anggur barang secawan sisa perjamuan malam?”
“hari baru menjelang petang.
ku kabarkan kepadamu,
tidak ada pesta malam ini”
yogyakarta 2004
akhirnya, kamu datang dengan sepasang sepatu berhak tinggi
megah menjulang mendaki ujung celana bertabur warna-warni bintang
dan senyum seciap merah anggur
“malam ini, tentu masih ada secawan anggur, lelehan atau harum uapnya sekalipun, juga remah roti di pinggan atau tercecer di meja perjamuan”
dan, sepotong blouse merajuk manja
mengurai warna-warni perca,
”ah, kamu masih saja bertelanjang dada”
maka, kepadamu kutanyakan:”adakah roti barang secuil atau anggur barang secawan sisa perjamuan malam?”
“hari baru menjelang petang.
ku kabarkan kepadamu,
tidak ada pesta malam ini”
yogyakarta 2004
kukatakan kepadamu,”saatnya, belum tiba”
Oleh Agus Sulistyo
kocak
kukocok-kocok anggur sekantong
berbuih-buih segentong
mengibas mengekor, belang
bilah sebilah berdecak-decak
pada langit
ada sekerilip kerlip berpijar-pijar
jalin-menjalin terpilin-pilin
kutarik bajak pijak bijak
menyisa jejak-jejak tak terlacak
mengukir risau berbatu-batu
menyudut berkelok
menggerus dasar berderak-derak
berulang berkali-kali,
kutanyakan kepadamu,
”harumnya telah menusuk hidung?”
mengular berbelang
tersekat-sekat bilik persegi;
pun meruas-ruas, cerita malam buta
menyudutku, persegi terbagi
memupus memerah padma
tak juga hilang rona
di belanga
bertaburan,
kepak kunang-kunang
renang-renang
dikubang kenang
pada secuil roti dan secawan anggur
sisa malam perjamuan
Diwak 2004
kocak
kukocok-kocok anggur sekantong
berbuih-buih segentong
mengibas mengekor, belang
bilah sebilah berdecak-decak
pada langit
ada sekerilip kerlip berpijar-pijar
jalin-menjalin terpilin-pilin
kutarik bajak pijak bijak
menyisa jejak-jejak tak terlacak
mengukir risau berbatu-batu
menyudut berkelok
menggerus dasar berderak-derak
berulang berkali-kali,
kutanyakan kepadamu,
”harumnya telah menusuk hidung?”
mengular berbelang
tersekat-sekat bilik persegi;
pun meruas-ruas, cerita malam buta
menyudutku, persegi terbagi
memupus memerah padma
tak juga hilang rona
di belanga
bertaburan,
kepak kunang-kunang
renang-renang
dikubang kenang
pada secuil roti dan secawan anggur
sisa malam perjamuan
Diwak 2004
Oleh Agus Sulistyo
Bukan karena kerdil aku panjat pohon ara itu...,
tetapi kerumunan itu memang membatasi ruang pandanganku -betapa
pun tinggi tubuhku- untuk melihat dia .
Bukankah kerumunan akan memancing tanya?
Ku arahkan pandangku padanya.
Dia manatapku,
"Aku akan singgah di rumahmu!"
"Apa yang dapat aku berikan padamu?"
"Hanya hatimu... untuk memetik kecapi dan bunyi-membunyikan keindahan untuk Bapaku."
"Apa yang akan kamu berikan padaku?"
"Kabar gembira!"
"Hanya itu?"
"Ya!"
"Dan untuk itu, aku harus melepaskan segala kepunyaanku?"
"Ya!"
"Kalau begitu mampirlah lain waktu...,
tidak dengan syarat yang sama."
"Kalau begitu,
pergilah agar tak suatupun kuambil darimu! Ha...ha...."
"Ha...ha...." kami berdua tertawa.
Dia pun berlalu.
Sayang, dia tidak tahu bahwa aku punya kabar duka untuknya.
Yogyakarta 2003
Bukan karena kerdil aku panjat pohon ara itu...,
tetapi kerumunan itu memang membatasi ruang pandanganku -betapa
pun tinggi tubuhku- untuk melihat dia .
Bukankah kerumunan akan memancing tanya?
Ku arahkan pandangku padanya.
Dia manatapku,
"Aku akan singgah di rumahmu!"
"Apa yang dapat aku berikan padamu?"
"Hanya hatimu... untuk memetik kecapi dan bunyi-membunyikan keindahan untuk Bapaku."
"Apa yang akan kamu berikan padaku?"
"Kabar gembira!"
"Hanya itu?"
"Ya!"
"Dan untuk itu, aku harus melepaskan segala kepunyaanku?"
"Ya!"
"Kalau begitu mampirlah lain waktu...,
tidak dengan syarat yang sama."
"Kalau begitu,
pergilah agar tak suatupun kuambil darimu! Ha...ha...."
"Ha...ha...." kami berdua tertawa.
Dia pun berlalu.
Sayang, dia tidak tahu bahwa aku punya kabar duka untuknya.
Yogyakarta 2003
Merah
Oleh Mbah Anton
pertama aku pasang cermin di padas gunung
matahari menjilati tikungan kampung
menyapa angin membiru haru
jiwa burung melompat terbang di ranting pohon purba yang bisu
musim mengangkat tinggi senja-senja
menyemai bunga layu
di atas batu, angan berkaca pada masa lalu
berjalan melewati arah angin
matanya tertidur
melepaskan ikatan menali luka alam
menahan arah angin berpulang
dari kesia-siaan yang tak ada
November 2001
pertama aku pasang cermin di padas gunung
matahari menjilati tikungan kampung
menyapa angin membiru haru
jiwa burung melompat terbang di ranting pohon purba yang bisu
musim mengangkat tinggi senja-senja
menyemai bunga layu
di atas batu, angan berkaca pada masa lalu
berjalan melewati arah angin
matanya tertidur
melepaskan ikatan menali luka alam
menahan arah angin berpulang
dari kesia-siaan yang tak ada
November 2001
Ujung dahan
Oleh Cindy Hapsari
“Bunga jatuh
dan sarang yang tak terjaga,
pada dahan koyak menyatu-rimbun sebuah rumah
hangat berduri
dan anak-anak yang mengotek
sebuah suara rekaman kaset saja
dan kita menatap mata dengan dinding tanpa nyawa..”
“Bunga jatuh
dan sarang yang tak terjaga,
pada dahan koyak menyatu-rimbun sebuah rumah
hangat berduri
dan anak-anak yang mengotek
sebuah suara rekaman kaset saja
dan kita menatap mata dengan dinding tanpa nyawa..”
Oleh Cindy Hapsari
Waktu-kala-itu
Memati-ruh-berkait
Kala-jangkar-melintang
Bersingkrawang-menggulung-bergulung
Laju-ruang-dalam-rupa-durga
Memati-tunas..
Batu-waktu-memanah
Dan-kita-berhala
Tungkai-berdiri-menatap-sahaja
Menari-sembelih-menarik
Tuai-tuai-juga-kemudi
Memati-tunas..
Kalacakra-batu-penjuru
Berteguh-pusaran
Dan-dawai-singgung
Menjarah-…
Waktu-kala-itu
Memati-ruh-berkait
Kala-jangkar-melintang
Bersingkrawang-menggulung-bergulung
Laju-ruang-dalam-rupa-durga
Memati-tunas..
Batu-waktu-memanah
Dan-kita-berhala
Tungkai-berdiri-menatap-sahaja
Menari-sembelih-menarik
Tuai-tuai-juga-kemudi
Memati-tunas..
Kalacakra-batu-penjuru
Berteguh-pusaran
Dan-dawai-singgung
Menjarah-…
Langganan:
Postingan (Atom)